Pertamina Ambil Alih 100% Blok Rokan dari Chevron



Sebarkan :


Views: 35

Jakarta - Pemerintah telah memutuskan untuk tidak memperpanjang kontrak PT Chevron Pasific Indonesia dan memberikan hak pengelolaan Blok Rokan kepada PT Pertamina (Persero) mulai 2021 mendatang. Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arcandra Tahar mengungkapkan ada 4 (empat) pertimbangan fundamenta latar belakang keputusan Pemerintah memutuskan memilih PT. Pertamina (Persero) sebagai pengelola Blok Rokan setelah mengevaluasi proposal yang diajukan oleh perusahaan milik negara tersebut.

“Tim 22 Wilyah Kerja (WK) sudah bekerja mengevaluasi yang akhinya berkesimpulan empat hal yang menjadi dasar kita (Pemerintah) adalah signature bonus, komitmen kerja pasti, pontensi pendapatan negara dan diskresi Menteri ESDM," jelas Arcandra saat konferensi pers di Gedung Sekretariat Jenderal Kementerian ESDM di Jakarta, Selasa (31/07/2018).

Dari sisi komersial, Pertamina dalam proposalnya mencantumkan signature bonus sebesar US$784 juta atau sekitar Rp11,3 triliun, komitmen kerja pasti sebesar US$500 juta atau sekitar Rp7,2 triliun dan potensi pendapatan negara selama 20 tahun kedepan sebesar US$57 milyar atau sekitar Rp825 triliun.

"Potensi pendapatan negara ini dapat menjadi pendapatan dan kebaikan bagi kita dan bangsa Indonesia," lanjut Arcandra.

Selanjutnya, setelah 100% pengelolaan dipegang oleh Pertamina, sesuai dengan Peraturan Menteri ESDM, maka 10% akan menjadi participating interest (PI) Pemerintah Daerah melalui Badan Usaha Daerah (BUMD) yang ditunjuk.

Pada kesempatan yang berbeda sehari setelahnya, Plt. Direktur Utama PT Pertamina (persero), Nicke Widyawati mengatakan, Blok Rokan sudah beroperasi cukup lama, sehingga produktivitasnya menurun.

"Jadi kalau kita lihat blok ini sudah berproduksi 94 tahun. Jadi sudah menurun (produksinya), karena karakter sumur kalau tidak ada new discovery dan unconvetional explore ya pasti akan menurun. Karena cadangannya tetap, tinggal seberapa cepat diambil saja," ujar Nicke di Jakarta, Rabu (01/08/2018).

Nicke menjelaskan, untuk meningkatkan produksi suatu blok migas bisa dilakukan dengan dua cara. Dengan cara konvensional dan tidak konvesional.

"Kita sudah pelajari data teknis Rokan, perlu ada teknologi dan beberapa titik eksplorasi. Dengan unconvetional, yaitu dengan EOR yang chemical. Ini memang di Rokan sendiri sudah dilakukan, tapi masih pilot project. Ini akan dilanjutkan," ucap dia.

Blok Rokan adalah ladang minyak dengan cadangan paling besar yang pernah ditemukan di Indonesia, saat ini Blok Rokan menyumbang 26% dari total produksi nasional. Cadangan minyak yang dimiliki Blok Rokan mencapai 500 juta hingga 1,5 miliar barel oil equivalent tanpa Enhance Oil Recovery atau EOR. Blok yang memiliki luas 6.220 kilometer ini memiliki 96 lapangan dimana tiga lapangan berpotensi menghasilkan minyak sangat baik, yaitu Duri, Minas dan Bekasap.

Tags: